Assalamu'alaikum blog...
Nggak terasa , usia kehamilanku sudah memasuki 37 ahad lebih 3 hari :) Kalau diingat-ingat dari perjalanan pernikahanku dan suami , nggak terbayang balasannya gua mampu mencicipi keajaiban yang terjadi dalam perut ini.
Sejak menikah September 2012 , gua dan suami rajin banget ditanya-tanyain , "Udah isi belum?"
Sebulan , dua bulan , tiga bulan... Kami masih kalem mendengar pertanyaan semacam itu. Toh kami juga hepi-hepi aja pacaran berdua hihihi. Mau nonton bioskop malam-malam , bisa. Suami dinas mendadak ke Bandung? Ikut lah , sekalian jalan-jalan dan main ke rumah eyang. Diajak mertua ke Eropa? Alhamdulillah bangeeeet!!
Sempat juga false alarm ketika sedang jalan di Kuala Lumpur (tuh kan kenapa kejadian-kejadian ibarat ini munculnya ketika lagi traveling!). Di hari-H harusnya menstruasi , gua iseng testpack dengan hasil 2 garis - yang satu garis super tipis. Bahagianya luar biasa. Sayang siangnya tiba-tiba muncul flek , dan 2 hari kemudian pun si tamu bulanan mengucur deras. Kebayang lah betapa hancurnya hati ini. Sehari di KL dihabiskan dengan nangis sendirian di hotel , sementara suami sedang training.
Semua baik-baik aja. Nggak ada duduk perkara yang mengakibatkan gua sulit hamil. Maka obgyn menulis diagnosa , 'unidentified infertility'. Kami lalu aktivitas dengan minum tambahan dan penyubur. Setelah 3 cycle tamu bulanan masih datang , kami disarankan melaksanakan tindakan inseminasi. Saat itu tengah tahun 2014 , kami merasa takut dan belum siap. Kok tau-tau sudah dirujuk inseminasi? Pengennya kan hamil alami. Kami nggak balik lagi ke obgyn tersebut.
Tahun 2015 datang , 2.5 tahun pernikahan. Rumah kami masih sepi-sepi aja , berdua aja. Mendadak sobat sekantor suami , hamil semua. Yang bapak-bapak pun istrinya pada hamil. Nggak kebayang kalo gua yang kerja di kantor suami , pasti mewek di tengah kabar bahagia kehamilan teman-teman.
Kami memutuskan untuk mencoba aktivitas lagi. Kali ini gua sudah siap kalau harus diinseminasi. Mau kehamilan alami dengan aktivitas , inseminasi , atau bayi tabung , semua yaitu ikhtiar untuk punya keturunan. Di obgyn yang gres , gua menunjukkan semua hasil lab dari programku di tahun sebelumnya. Eh dokter bilang , data-data yang gua berikan sudah cukup , gua nggak perlu mengulang periode aktivitas dengan minum obat-obatan hormon. Kami mampu pribadi inseminasi kalau bulan depan masih mens!
Bulan Februari 2015 , proses insem dilakukan. Aku dan suami menjalaninya dengan sukacita. Kami pasrah dan nggak banyak berharap , tapi kami bahagia banget ketika itu. Tiap hari bercanda mulu :D Kami beli mesin juicer supaya gua mampu rajin minum jus , semoga sehat hahahaha... Sehari setelah insem pun kami main-main ke IKEA Alam Sutera. Hepiiii banget.
Kalau diingat-ingat , bulan Februari itu auranya super positif. Pada 2 ahad pasca tindakan insem , gua dijadwalkan tes darah beta-HCG untuk mengecek apakah terjadi proses kehamilan. Setelah ambil darah , gua masih sempat main ke Indonesia Fashion Week :p Sembari menunggu ambil hasil tes di malam hari.
Hasilnya? Seperti nggak mampu dipercaya , tes HCG menunjukkan gua hamil. Test pack pun semakin hari semakin terperinci 2 garisnya. Suami masih berusaha hening , nggak mau terlalu excited alasannya takut kejadian false alarm ibarat tahun lalu. Kontrol dokter dijadwalkan 2 ahad pasca tes HCG.
Dua ahad kemudian , yakni ketika kehamilan memasuki usia 6 ahad , kami kontrol ke obgyn. Si dedek masih berbentuk ibarat titik di dalam kantong kehamilan. Obgyn memperlihatkan kontrol 2 ahad lagi (usia kehamilan 8 minggu) untuk mengecek denyut jantung dedek. Tentu saja kami mau.
Di ahad ke-8 kehamilan , terdengar kencangnya denyut jantung dari alat doppler yang ditempelkan ke perutku. Speechless!! Benar-benar asing , makhluk kecil seukuran kacang merah di dalam rahim ini , sudah punya detak jantung. Aku dan suami pulang bergandengan tangan , tanpa bicara apa-apa. Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kau dustakan??
---
Nggak terasa , 2-3 ahad lagi kita ketemu ya , dedek. Bapak ibu sudah 3 tahun menantikan kau :') Tiap hari tendanganmu makin terasa kencang , kayaknya udah pengen keluar dari perut ibu yaaaa... Sehat-sehat selalu ya dek , see you soon , insya Allah!
![]() |
| Kado dari suami di awal tahun 2014 - alhamdulillah terpakai di tahun 2015 :') |
Nggak terasa , usia kehamilanku sudah memasuki 37 ahad lebih 3 hari :) Kalau diingat-ingat dari perjalanan pernikahanku dan suami , nggak terbayang balasannya gua mampu mencicipi keajaiban yang terjadi dalam perut ini.
Sejak menikah September 2012 , gua dan suami rajin banget ditanya-tanyain , "Udah isi belum?"
Sebulan , dua bulan , tiga bulan... Kami masih kalem mendengar pertanyaan semacam itu. Toh kami juga hepi-hepi aja pacaran berdua hihihi. Mau nonton bioskop malam-malam , bisa. Suami dinas mendadak ke Bandung? Ikut lah , sekalian jalan-jalan dan main ke rumah eyang. Diajak mertua ke Eropa? Alhamdulillah bangeeeet!!
Tanda-tanda Kehamilan?
Memang ada momen-momen dimana gua mencicipi tanda-tanda 'kayaknya gua hamil deh' , yang ternyata cuma kegeeran semata. PMS ibarat tanda-tanda hamil , sis! Berujung berurai air mata :))) Sempat 'telat' seminggu pasca jalan-jalan ke Korea , tapi bukan hamil juga. Setelah di-browsing , ternyata traveling mampu mensugesti jadwal menstruasi , alasannya metabolisme badan berubah. Mungkin alasannya di Korea suhunya minus , makanannya pun beda dengan yang kukonsumsi di Indonesia.Sempat juga false alarm ketika sedang jalan di Kuala Lumpur (tuh kan kenapa kejadian-kejadian ibarat ini munculnya ketika lagi traveling!). Di hari-H harusnya menstruasi , gua iseng testpack dengan hasil 2 garis - yang satu garis super tipis. Bahagianya luar biasa. Sayang siangnya tiba-tiba muncul flek , dan 2 hari kemudian pun si tamu bulanan mengucur deras. Kebayang lah betapa hancurnya hati ini. Sehari di KL dihabiskan dengan nangis sendirian di hotel , sementara suami sedang training.
Program Hamil
Hingga balasannya 1.5 tahun ijab kabul berlalu , makin sedikit yang tanya "Udah isi belum?". Justru gua dan suami yang jadi bertanya-tanya , apa ada yang salah dengan kami? Dimulailah babak gres ijab kabul kami: aktivitas kehamilan di Rumah Sakit. Serangkaian tes pun dilakukan. Dari tes darah , tes sperma , sampai HCG yang menyakitkan untuk mengecek lancarnya susukan ke indung telur.Semua baik-baik aja. Nggak ada duduk perkara yang mengakibatkan gua sulit hamil. Maka obgyn menulis diagnosa , 'unidentified infertility'. Kami lalu aktivitas dengan minum tambahan dan penyubur. Setelah 3 cycle tamu bulanan masih datang , kami disarankan melaksanakan tindakan inseminasi. Saat itu tengah tahun 2014 , kami merasa takut dan belum siap. Kok tau-tau sudah dirujuk inseminasi? Pengennya kan hamil alami. Kami nggak balik lagi ke obgyn tersebut.
Tahun 2015 datang , 2.5 tahun pernikahan. Rumah kami masih sepi-sepi aja , berdua aja. Mendadak sobat sekantor suami , hamil semua. Yang bapak-bapak pun istrinya pada hamil. Nggak kebayang kalo gua yang kerja di kantor suami , pasti mewek di tengah kabar bahagia kehamilan teman-teman.
Kami memutuskan untuk mencoba aktivitas lagi. Kali ini gua sudah siap kalau harus diinseminasi. Mau kehamilan alami dengan aktivitas , inseminasi , atau bayi tabung , semua yaitu ikhtiar untuk punya keturunan. Di obgyn yang gres , gua menunjukkan semua hasil lab dari programku di tahun sebelumnya. Eh dokter bilang , data-data yang gua berikan sudah cukup , gua nggak perlu mengulang periode aktivitas dengan minum obat-obatan hormon. Kami mampu pribadi inseminasi kalau bulan depan masih mens!
Bulan Februari 2015 , proses insem dilakukan. Aku dan suami menjalaninya dengan sukacita. Kami pasrah dan nggak banyak berharap , tapi kami bahagia banget ketika itu. Tiap hari bercanda mulu :D Kami beli mesin juicer supaya gua mampu rajin minum jus , semoga sehat hahahaha... Sehari setelah insem pun kami main-main ke IKEA Alam Sutera. Hepiiii banget.
Kalau diingat-ingat , bulan Februari itu auranya super positif. Pada 2 ahad pasca tindakan insem , gua dijadwalkan tes darah beta-HCG untuk mengecek apakah terjadi proses kehamilan. Setelah ambil darah , gua masih sempat main ke Indonesia Fashion Week :p Sembari menunggu ambil hasil tes di malam hari.
Hasilnya? Seperti nggak mampu dipercaya , tes HCG menunjukkan gua hamil. Test pack pun semakin hari semakin terperinci 2 garisnya. Suami masih berusaha hening , nggak mau terlalu excited alasannya takut kejadian false alarm ibarat tahun lalu. Kontrol dokter dijadwalkan 2 ahad pasca tes HCG.
Dua ahad kemudian , yakni ketika kehamilan memasuki usia 6 ahad , kami kontrol ke obgyn. Si dedek masih berbentuk ibarat titik di dalam kantong kehamilan. Obgyn memperlihatkan kontrol 2 ahad lagi (usia kehamilan 8 minggu) untuk mengecek denyut jantung dedek. Tentu saja kami mau.
Di ahad ke-8 kehamilan , terdengar kencangnya denyut jantung dari alat doppler yang ditempelkan ke perutku. Speechless!! Benar-benar asing , makhluk kecil seukuran kacang merah di dalam rahim ini , sudah punya detak jantung. Aku dan suami pulang bergandengan tangan , tanpa bicara apa-apa. Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kau dustakan??
---
Nggak terasa , 2-3 ahad lagi kita ketemu ya , dedek. Bapak ibu sudah 3 tahun menantikan kau :') Tiap hari tendanganmu makin terasa kencang , kayaknya udah pengen keluar dari perut ibu yaaaa... Sehat-sehat selalu ya dek , see you soon , insya Allah!

0 Response to "Tentang Penantian Kehamilan"