Kamis, 27 Juli 2017

Drama ASI Kurang dan Suplementasi Susu Formula

Baby Sky | |
Ketika bekerja di butik baju hamil tahun 2010 dahulu , gua mengenal AIMI dan seluk beluk manfaat ASI. Di masa itu , ASI belum sepopuler sekarang. Maka ketika ada karyawan ibuku yang mengeluhkan gajinya habis untuk beli susu bayi , gua dengan sotoy-nya menasihati untuk memberi ASI saja.

"Tapi air susunya nggak keluar..."

Dan gua menyerocos bahwa ASI itu supply vs demand. Awalnya belum tentu keluar , tapi bayi bisa tahan nggak minum dalam 3 hari pertama kehidupannya. Yang penting disedot terus.

Hingga balasannya gua punya anak sendiri , dan mencicipi dramanya ketika ASI kurang lancar :')


Drama dimulai di hari keempat umur si dedek. Malam setelah pulang dari RS , bayi menangis sepanjang malam. Nggak mau minum. Nggak tidur. Nggak bisa ditenangkan.

Air susu nggak keluar alasannya PD sudah bengkak. Si bayi nggak bisa menghisap. Kakak ipar datang membantu , memijat payudara , dan mendatangkan bala derma sahabat-sahabat AIMI-nya.

Ternyata masalahnya ada di pelekatan. Segera setelah diajari pelekatan yang benar , bayiku mau minum dan tangisnya reda. Bayi tidur hening , gua mencicipi the joy of motherhood. Nyusuin , bayi tidur. Nyusuin , bayi tidur. Nggak repot dan nggak ada drama lagi :D

Bayi Kuning , Harus Disinar 

Hari ketujuh usia dedek , kami kontrol ke dokter anak. Bagai tersambar petir , ternyata bayiku kuning! Hasil tes bilirubin nilainya 17... Dedek harus rawat inap di NICU untuk terapi sinar.

Mendadak gua nangis aja di RS. Baru seminggu bersama dedek sudah harus dipisah. Aku disarankan memerah ASI untuk diberikan pada dedek.

Ternyata gua nggak bisa memerah. Hasil perah yang hanya 10-35 ml (35 ml pun cuma terjadi sekali) nggak cukup memenuhi kebutuhan dedek. Aku stand by di ruang tunggu ICU. Kalau dedek nangis , gua dipanggil suster untuk menyusui.

Menunggu di RS itu sangat melelahkan dan deg-degan. Harus siaga. Pernah gua tinggal makan sebentar. Tau-tau dedeknya udah nangis kejer dan suster nyari gua nggak ada di ruang tunggu. "ASI perahnya 15 ml udah dikasih , masih lapar dedeknya..." Kata suster. Hiks...

Suster sudah menunjukkan , apa mau ditambah susu formula. Karena bayi yang disinar mudah dehidrasi. Terapi pun kurang maksimal jika dikit-dikit bayinya diangkat untuk disusui.

Aku yang berharap bisa ASI langsung , berpikir negatif jika susternya jahat banget. Kenapa gua disuruh tambah sufor. Aku tanya apa bisa donor ASI? Suster bilang prosedurnya ribet. Ibu pendonor harus dites dulu untuk tau kecocokan ASInya >_<

Malam kedua dini hari gua menginap di (ruang tunggu) RS , gua dipanggil suster untuk menyusui bayiku yang menangis. Setelah 30 menit menyusui , bayi tertidur. Tapi 5 menit kemudian gua dipanggil lagi. Bayi terbangun masih lapar :( Aku lanjutkan menyusui hingga 1 jam berlalu. Dedek nggak kenyang-kenyang. Suster menengok ke ruang menyusui , ia bertanya , "Air susunya keluar nggak bu?"

Sedih banget. Bayi ini benar-benar kehausan. Aku pun menandatangani form pemberian susu formula , daripada ia terus kususui berjam-jam dan terapi sinarnya nggak maksimal.

That's the first time he consumed that devil formula milk. Meskipun hanya 30 ml , tetap saja gua sedih. Tapi dengan kepala masbodoh , gua tau , susu formula bukan racun kok. Apa gua setega itu membiarkan bayiku kelaparan ketika disinar?

Alhamdulillah sore hari dedek boleh pulang. Bilirubinnya sudah aman. Sekaleng susu formula yang terbeli pun dibawa pulang.

Drama Menyusui Tanpa Henti dan Klinik Laktasi

Malamnya , referensi menyusui bayiku nggak ibarat yang dulu. Dulu bisa nyusu - tidur 2 jam - nyusu - tidur 2 jam. Sekarang ia menyusu dari jam 11 malam hingga jam 4 pagi , ketiduran sebentar , ditaruh bangkit lagi nangis lagi kelaparan. Otomatis gua pun nggak tidur.

Aku panik kenapa bayi ini nggak kenyang-kenyang. Akhirnya sepakat bersama suami , kami suapin susu formula 30 ml. Ia masih lapar. Tambah 30 ml lagi. Baru ia bisa tidur.  Lagi-lagi , setelah memberi sufor rasanya gua melaksanakan dosa besar.

Sebagai emak kebanyakan drama , gua nangis-nangis. Suami inisiatif cari klinik laktasi yang buka hari itu (Sabtu). Maka paginya kami pergi ke RS Carolus Salemba untuk komitmen pertama bersama dokter laktasi. Dokter mengajari teknik pelekatan yang benar , juga cara memerah ASI dengan tangan. Karena menurut dia cara kerja pompa ASI itu ibarat vacuum cleaner , sementara sedotan bayi berbeda. Hasil pompa tidak mencerminkan kapasitas ASI yang ada di payudara. Dokter menyarankan gua selalu menyusui lalu menyuapi hasil perah untuk mempercepat penambahan berat badannya.

Minggu depannya kami kontrol lagi ke klinik laktasi dan gua diajari cara memijat payudara untuk menambah ASI.

Namun dokter meresepkan gua obat Domperidone. Selidik punya selidik , Domperidone ini obat mual yang punya efek samping terhadap hormon prolaktin biar ASI makin banyak. Dari web dr. Jack Newman , pakar laktasi dunia , obat ini hanya diberikan jika langkah peningkatan pasokan ASI yang lain belum berhasil.

Sementara itu referensi menyusui si bayi masih tetap sama , tidak kenyang-kenyang walaupun sudah 2 jam menyusui. Aku mulai curiga , jangan-jangan bayi ini hanya ngenyot tapi nggak ada yang dihisap. Teknik kompresi payudara pun dilakukan , namun nihil. Jarang sekali terdengar si bayi meneguk ASI walaupun dia menghisap dengan kuat.


Full ASI Tapi Kurang Berat Badan

Di usia 1 bulan , kontrol pun dilakukan. Sambil menunggu dokter , gua menyusui dedek di ruang menyusui bersama ibu-ibu dengan bayi gemuk lucu. Ternyata usianya sama-sama 1 bulan , full ASI , dan ibu itu kaget melihat si dedek juga 1 bulan. "Saya kira masih seminggu bu... Kecil ya badannya.."

T_T Jleb jleb jleb... Aku tau ASI-ku kurang. Aku sudah menyusui berjam-jam dan dedek belum kenyang juga...

I felt like a failure...

Dokter anak pun terkejut ketika tau berat tubuh dedek 3 ,3 kg... Hanya naik 200 gram dari berat lahirnya yang 3 ,1 kg!

"Bu , ini udah ancaman , bisa-bisa nanti gagal tumbuh. Ibu harus nyusui kanan kiri ulang 3x , suapin hasil perah , dan jika bayi masih lapar terpaksa ditambah sufor 30 ml..." saran dokter.

Sampai rumah rasanya gua makin stres , musnah impian ASI eksklusif. Sedih melihat teman-teman yang ASInya berlimpah sekulkas. Sedih diberikan saran-saran yang mencegahku memberi sufor. Tapi rejeki orang kan beda-beda ya , begitu pula ASI... rejeki dari Allah. Aku putuskan mengikuti saran dokter , menambah sufor , demi kebaikan bayiku.

Memang , gua akui si dedek ini kerjaannya hanya nyusu. Nyaris nggak ada kesempatan ia terbangun dengan hening , diajak main. Boro-boro main , wong dia lapar terus. Kerjaanku di rumah pun hanya menyusui. Semua urusan domestik digantikan oleh ajun yang diimpor dari rumah ibuku di Surabaya. Mau mompa juga nggak sempat , kan sepanjang hari bayinya nempel. Kasian kan bayi dan ibunya jika ibarat itu terus.

Lewat telpon , gua yang lagi nangis-nangis ditenangkan orangtuaku , "Meskipun kau harus nambah formula , bukan berarti kau ibu yang gagal , Yak... Yang penting kau fokus ke perkembangan bayimu ya , supaya dia sehat..." Ibu mertua pun menghibur , nggak papa kok pakai formula , toh dia juga di masanya pakai formula. Dan gua lihat , relasi ke anak-anaknya tetap erat banget.

Maka gua mencoba tulus mendapatkan , gua memang belum bisa ASI eksklusif. Aku akan suplementasi bayiku dengan susu formula , sambil terus menyampaikan ASI sebanyak yang gua punya. Sedikit ASI lebih baik daripada enggak sama sekali 'kan?

Suplementasi Susu Formula , Bingung Puting , dan Tongue Tie

Awalnya , kami menyuapi dedek susu formula menggunakan cup feeder , bentuknya ibarat cup kecil dari plastik. Tapi dedek usrek dan rewel banget. Lalu mbak ajun menyarankan pakai dot aja. Meskipun gua takut galau puting , gua dan suami diyakinkan oleh salah satu dokter anak bahwa galau puting itu hanya mitos.

Mulailah kami beli botol. Dedek pun minum sufor dengan lahap. And that moment , I kinda felt a little bit of heartbreak. He drank vigorously as if it is a relief from his hunger. Meskipun demikian , gua nggak berani ngasih sufor banyak-banyak alasannya takut produksi ASIku makin berkurang. Paling sehari gua memberi 60-150 ml sufor , terbagi dalam 3x pemberian.

Tandem ASI dan formula ini berlangsung sekitar 3 ahad hingga gua merasa dedek makin rewel dan nggak sabaran ketika kususui langsung dari payudara. Dia lebih memilih botol yang cepat bikin kenyang! Sedih banget deh rasanya. Ini galau puting!

Aku langsung memutuskan , harus melaksanakan sesuatu terhadap pasokan dan fatwa ASI-ku. Aku pergi ke Kemang Medical Care (KMC) yang super jauh dari rumah untuk terapi akupuntur ASI. Dokter akupuntur menyarankan gua juga cari second opinion ke klinik laktasi di KMC.

Dokter laktasi KMC memintaku segera buang semua dot , namun teruskan suplementasi sufor 6x 60 ml menggunakan alat Medela SNS hingga berat tubuh dedek masuk ke chart normalnya. Waow. Jumlah mililiternya bikin kaget , jauh lebih banyak dari yang gua berikan biasanya. Selain itu , dosis obat Domperidone-ku ditambah.

Dokter juga memeriksa pengecap dedek , dan menemukan tongue tie tipe 4 serta lip tie , sehingga harus di-insisi. Tongue tie dan lip tie ini bisa jadi menimbulkan bayi nggak bisa menghisap ASI dengan optimal , berakibat pada berat tubuh yang kenaikannya lambat , dan supply ASI yang berkurang alasannya 'nggak tersedot' dengan maksimal.

Jujur , gua memang agak berharap si dedek ada tongue tie , sebagai alasan mengapa pasokan ASIku nggak banyak. Kuputuskan tanda tangan form untuk insisi. Dan dipotonglah tali pengecap si bayi.

.
.
.

Apakah setelah itu drama ASI berakhir dan gua bisa menyusui dengan mudah?

Ternyata belum hehehe. Hingga kini , gua masih mengonsumsi Moloco , Domperidone , aneka booster ASI dari Mama S*ya , coklat Mamam*lky , makan daun katuk (meski seminggu hanya 3x) , dll dll. Namun penyusuan masih berlangsung berjam-jam dan dari siang ke malam LDR-nya lambat sekali.

Sempat curiga bahu-membahu gua ada breast hypoplasia / insufficient glandular tissue , suatu kondisi medis dimana kelenjar air susu nggak berkembang dengan tepat pada ketika pubertas dan kehamilan. Karena dari beberapa cirinya , di gua juga ada.

Aku masih tergantung dengan Medela SNS sebagai sarana suplementasi , berharap tiap stimulasi di puting bisa meningkatkan produksi ASI. Aku juga masih nggak bisa pisah lebih dari 15 menit dari dedek , takutnya dia haus lagi haus lagi hehehe...

Alhamdulillah sudah beberapa hari gua bisa mengisi SNS dengan ASI perah , yang dipompa sambil menyusui tengah malam. Kaprikornus nggak tergantung sufor lagi. Berat tubuh dedek pun mendekati target yang ditentukan dokter anak.

Kalau dipikir-pikir , mungkin sekarang ASIku sudah cukup , hanya perlu diatur timing-nya saja. Memompa ketika pasokan sedang banyak di penyusuan dini hari dan diberikan ketika ASI seret antara jam 8 pagi hingga 8 malam (dibagi sedikit-sedikit di SNS , supaya bayinya nggak rewel menyusu lambat keluar ASI).

Tentunya administrasi ini nggak mudah , kalo mau ke luar rumah harus diatur kapan pakai SNS-nya , dimana bisa nyuci-nya , dan kapan harus menyiapkan isinya lagi. Apalagi jika pakai ASI perah , nggak bisa lama di luar kulkas. Kalau pakai sufor bisa minta air panas di restoran , tapi entah terjamin kebersihannya apa enggak.

Aku sempat berpikir , minimal 'melakukan usaha ini' hingga dedek 3 bulan. Using SNS is kind of pain in the ass hahahaa... Setelah itu gua bisa memilih untuk meneruskan dengan sufor. Eh tau-tau 3 bulan sudah terlewati :D Dan gua mau melanjutkan target perjuangannya... hingga 6 bulan. Syukur-syukur jika bisa menyusui terus hingga tersapih dengan alami.

Semoga ASI bisa banyak dan lancar kapan pun dedek butuh menyusui. Semoga ASI-ku bisa memenuhi kebutuhan nutrisi dedek. Tak henti-hentinya kupanjatkan doa ini tiap sholat.

Pengalaman ini membuatku lebih membuka mata , untuk nggak seenaknya men-judge seorang ibu yang memberi anaknya sufor. You never know what she's been going through.

Semua ibu , pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Betul nggak?

UPDATE: Alhamdulillah usaha membuahkan hasil... Baca:
Drama ASI #2: Akhir yang Bahagia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar